gravatar

3 Guru SMKN I Presentasikan Kunjungan ke Jerman

PELALAWAN,MR
Salah satu perbedaan mendasar antara sistim pendidikan di negara ini dengan negara di Jerman adalah besarnya rasa tanggung jawab perusahaan-perusahaan yang ada di sana dalam bidang pendidikan. "Di sana, KADIN-nya menerapkan kebijakan agar perusahaan-perusahaan mengambil anak asuh untuk dibiayai pendidikannya," jelas salah satu guru SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Rasyid, didampingi Aidayani Mayasari dan Sitti Salmiah, di Pangkalan Kerinci, Senin (13/6).
Ketiga orang guru SMKN 1 Pangkalan Kerinci yang baru saja selesai mengikuti Internasional Leadership Training di Otto Von Guericke University Magdeburg di Jerman selama satu tahun itu mengatakan bahwa jika ada perusahaan yang tak menetapkan hal tersebut maka perusahaan itu akan dicoret menjadi anggota Kadin. "Artinya, perusahaan-perusahaan di sana telah merasa bahwa keberlangsungan suatu pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja melainkan juga harus terlibatnya peran serta dari swasta juga, dalam hal ini perusahaan-perusahaan melalui program CD-nya," terangnya. Rasyid yang mewakili dua rekannya menerangkan bahwa di samping itu, penerapan pedagogik di negera German benar-benar telah diaplikasikan dalam pengajaran. Pasalnya, murid-murid terlibat aktif dalam suatu pelajaran sehingga guru hanya tinggal mengarahkan saja. "Di sana, para murid aktif terlibat sedangkan guru hanya mengarahkan saja atau sebagai moderator dari diskusi kelas yang berlangsung," katanya. Di samping tiga orang dari Kabupaten Pelalawan, sambungnya, ada 17 orang lagi yang berasal dari seluruh Indonesia yang mengikuti Internasional Leadership Training - GIZ di Otto Von Guericke University Magdeburg dengan tema pendidikan Labour Market Oriented Technical Vocational Educational And Training And Corporate Human Resources Development. "Jadi ada 20 orang yang dikirim ke Indonesia termasuk kita untuk studi di German selama satu tahun. Diantaranya 10 orang P4 TK malang, 4 orang dari P4 TK Medan, 3 orang dari SMK Pangkalan Kerinci dan 1 orang dari SMKN Bekasi dan 1 orang dari SMKN Makasar dan IGTC Jakarta," katanya. Selama satu tahun itu, lanjutnya, mereka mengikuti beberapa program diantaranya program bahasa selama 3,5 bulan, kemudian mengikuti kuliah selama satu semester tentang pedagogik di Universitas Magdeburg di samping mengikuti program pengembangan SDM selama 3,5 bulan. "Selain itu, kita juga mengikuti program kompetensi Management Internasional selama tiga minggu dan Module HIV/AIDS," ujarnya.
Diakuinya, bahwa dari hasil belajar selama satu tahun di negara Kanselir Helmut Kohl itu banyak pelajaran yang dapat diambil yang sekiranya bisa diterapkan di daerah ini khususnya di sekolah SMKN 1 Pangkalan Kerinci. "Mungkin salah satunya yakni penerapan pedagogik dimana siswa ikut terlibat aktif dalam suatu pelajaran. Karena di German sana, pedagogik ini sudah lama diterapkan sehingga keterlibat siswa dalam pelajaran sudah intens dilakukan," ungkapnya. Sementara itu, Sekretaris Disdik Pelalawan MD Rizal MPd yang menerima kehadiran tiga orang guru SMK Negeri 1 Pangkalan Kerinci yang baru pulang studi itu mengatakan bahwa diharapkan agar ilmu yang didapat di sana bisa diterapkan di daerah ini. "Kita jelas mengingkan bahwa dari sekian ilmu yang didapat di sana, bisa diterapkan di daerah ini khususnya di SMKN 1 Pangkalan Kerinci sendiri," katanya. Dikatakannya, dan bagi SMK Negeri 1 Pangkalan Kerinci sendiri dengan semakin banyaknya guru yang studi ke German diharapkan bisa meningkatkan kualitasnya sebagai Sekolah Berstandar Internasional. Atau paling tidak bisa mempertahankan predikatnya saat ini sebagai Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). "Kita mengingkan ada peningkatan yang tadinya RSBI menjadi SBI, atau paling tidak mempertahankan predikat RSBI-nya, tapi jangan sampai turun," tegasnya menutup. (TA)

Artikel Terkait by Categories



Widget by Uda3's Blog
Bagikan

INILAH.COM

NOKIA

KURS RUPIAH HARI INI

COVER NEWS PAPER

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget