Pasca Embargo Sapi, RPH Alami Penurunan Omzet
Pekanbaru, MR
Pasca diberlakukannya larangan pengiriman sapi asal Australia ke indonesia termasuk Riau, saat ini sudah berjalan dua pekan pasokan sapi asal Australia terus berkurang. Penurunan ini jelas berdampak pada menurunnya omzet sapi.
faktor utama menurunnya jumlah hewan yang akan dipotong setiap harinya oleh Rumah potong hewan (RPH) Pekanbaru.
"Biasanya kami memotong 60 ekor sapi setiap harinya, namun untuk dua pekan terakhir hanya bisa memotong 40 ekor saja," ungkap Andra (30), salah seorang mandor yang bekerja di rumah potong hewan (RPH).
Dikatakan Andra, dengan adanya hal ini pihaknya menjadi kewalahan untuk memenuhi permintaan pelanggan, sehingga ada pedagang yang tidak kebagian untuk dijual di pasaran.
"Gara-gara pasokan kurang, jadi kami harus membagi-bagi kepada penjual daging, biasanya kami jatah 50 kilogram daging setiap pedagang, sekarang menjadi 25 kilogram, dan ada juga yang tidak kebagian,"ungkap Andra.
Andra juga menjelaskan, RPH mengalami kerugian mencapai 10-15 persen, ini karena jumlah hewan potong berkurang dan pihaknya terpaksa memotong hewan yang tidak layak potong, alias kurus.
"Kami mengalami kerugian mencapai 15 persen dari harga satu ekor sapi, karena kami terpaksa memotong sapi yang kurus dan dagingnya berkurang ," jelasnya.
Sedangkan sapi lokal sejauh ini tidak bisa menggantikan karena dagingnya yang lembek kurang padat belum lagi jumlahnya juga terbatas.
Harganya juga mahal, mencapai Rp120 ribu perkilogram. Ini jelas akan membebani masyarakat untuk membeli daging.
"Sapi lokal itu dagingnya sedikit, ditambah lagi hargannya mahal, karena itu kita tidak sanggup menjualnya kepada pedagang pasar," tandasnya.
Ditempat yang berbeda Kepala Dinas Pertanian Kota Pekanbaru, Sentot Prayetno ketika dikonfirmasi terkait pasokan ini menyatakan, membantah.
Menurutnya, hal ini dikarenakan pasokan daging sapi untuk saat ini cukup.
"Saat ini dan lima hari ke depan pasokan daging cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Pekanbaru," ungkap Sentot.
Dia mengatakan,RPH melakukan pemotongan setiap harinya 30 ekor atau setara dengan 6 ton.
"Setelah ini baru kita memikirkan pasokan maupun ternak masyarakat, bagaimana untuk mengatasi masalah kurangnya pasokan daging sapi," tuturnya lagi.
Selain itu, jelas Sentot lagi, untuk saat ini saja stok sapi yang ada di Pekanbaru sekitar 7.000 ekor sapi dalam setahun, sementara untuk perbulannya Pekanbaru memasok sekitar 1.000 ekor.(Mr24).
Bagikan
Pasca diberlakukannya larangan pengiriman sapi asal Australia ke indonesia termasuk Riau, saat ini sudah berjalan dua pekan pasokan sapi asal Australia terus berkurang. Penurunan ini jelas berdampak pada menurunnya omzet sapi.
faktor utama menurunnya jumlah hewan yang akan dipotong setiap harinya oleh Rumah potong hewan (RPH) Pekanbaru.
"Biasanya kami memotong 60 ekor sapi setiap harinya, namun untuk dua pekan terakhir hanya bisa memotong 40 ekor saja," ungkap Andra (30), salah seorang mandor yang bekerja di rumah potong hewan (RPH).
Dikatakan Andra, dengan adanya hal ini pihaknya menjadi kewalahan untuk memenuhi permintaan pelanggan, sehingga ada pedagang yang tidak kebagian untuk dijual di pasaran.
"Gara-gara pasokan kurang, jadi kami harus membagi-bagi kepada penjual daging, biasanya kami jatah 50 kilogram daging setiap pedagang, sekarang menjadi 25 kilogram, dan ada juga yang tidak kebagian,"ungkap Andra.
Andra juga menjelaskan, RPH mengalami kerugian mencapai 10-15 persen, ini karena jumlah hewan potong berkurang dan pihaknya terpaksa memotong hewan yang tidak layak potong, alias kurus.
"Kami mengalami kerugian mencapai 15 persen dari harga satu ekor sapi, karena kami terpaksa memotong sapi yang kurus dan dagingnya berkurang ," jelasnya.
Sedangkan sapi lokal sejauh ini tidak bisa menggantikan karena dagingnya yang lembek kurang padat belum lagi jumlahnya juga terbatas.
Harganya juga mahal, mencapai Rp120 ribu perkilogram. Ini jelas akan membebani masyarakat untuk membeli daging.
"Sapi lokal itu dagingnya sedikit, ditambah lagi hargannya mahal, karena itu kita tidak sanggup menjualnya kepada pedagang pasar," tandasnya.
Ditempat yang berbeda Kepala Dinas Pertanian Kota Pekanbaru, Sentot Prayetno ketika dikonfirmasi terkait pasokan ini menyatakan, membantah.
Menurutnya, hal ini dikarenakan pasokan daging sapi untuk saat ini cukup.
"Saat ini dan lima hari ke depan pasokan daging cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Pekanbaru," ungkap Sentot.
Dia mengatakan,RPH melakukan pemotongan setiap harinya 30 ekor atau setara dengan 6 ton.
"Setelah ini baru kita memikirkan pasokan maupun ternak masyarakat, bagaimana untuk mengatasi masalah kurangnya pasokan daging sapi," tuturnya lagi.
Selain itu, jelas Sentot lagi, untuk saat ini saja stok sapi yang ada di Pekanbaru sekitar 7.000 ekor sapi dalam setahun, sementara untuk perbulannya Pekanbaru memasok sekitar 1.000 ekor.(Mr24).

