Polisi, Pemburu yang Kini Diburu?
SIANG yang tenang. Empat orang anggota polisi, yaitu Bripda Yudistira, Bripda Ibrar, Bripda Dedy Edwar dan Brida Ahyar tengah melakukan pengawalan terhadap mobil pembawa uang milik Bank Central Asia, Rabu (25/5).
Setelah sampai di kantor BCA yang terletak di Cabang Palu, Sulawesi Tengah, Jalan Emy Saelan, Palu Selatan, Bripda Yudistira dan Dedy langsung menempatkan diri di samping pos jaga. Sibuk lirik kanan-kiri, mata kedua Bripda ini seolah tak pernah lelah, lengah, sesaat pun untuk melakukan pengawasan. Bripda Ibrar dan Ahyar memilih berada di dalam pos jaga.
Kronologi Penembakan di Palu
Waktu itu sekitar Pukul 10.15 WITA. Sesosok 'Yamaha RX King' dengan suara mesin yang nyaring, berbaur kepulan asap motor dari knalpotnya, dipacu beriringan bersama sebuah 'Yamaha Jupiter' merah, mendekat, menghampiri Bripda Yudistira dan Dedy yang tengah berjaga. Kedua motor mendekat, membawa sosok empat orang yang berpenampilan tertutup di bagian kepala serta masing-masing orang yang duduk di 'bangku pembonceng' membawa sebuah senapan laras panjang. Berjarak sekitar 3 meter dari samping pos jaga, keempat bripda itu bahkan tak punya kesempatan untuk curiga. Merasa terkejut bukan main, mereka menghardik para pengendara motor ini. "Letakkan senjata!". Peringatan itu percuma, bahkan keempat bripda dihadiahi berondongan peluru.
Tembakan itu menghunjam, meminta nyawa Bripda Yudistira dan Bripda Ibrar. Tubuh Bripda Dedy Edwar jatuh tersungkur, dihantam timah panas yang berhasil bersarang di pantat kirinya. Peluru itu bahkan tembus hingga ke bagian paha. Beruntung, Bripda Ahyar selamat. Usai memberi 'tembakan perpisahan' yang membabi buta, para pelaku kabur. Beberapa saat sebelum kabur, mereka sempat mengambil senjata Bripda Irbar yang berada di pos jaga. Polisi langsung menggelar olah TKP dan mengejar pelaku. Senjata pelaku dapat diidentifikasi berdasarkan peluru yang dihamburkan untuk saling tembak. Ditemukan selongsong peluru cal 5,26 yang biasa digunakan M 16, FNC, dan AK Rusia.
Perburuan Polisi dibantu oleh Tim Densus 88 serta warga pun dilakukan. Berhasil, kurang dari 12 jam setelah kejadian, polisi berhasil menangkap F dan H yang diduga terlibat langsung. Dari tangan F dan H disita pula senjata Jungle US Caraben, M- 16, magazen, 25 butir peluru Jungle US dan 5 butir peluru yang caraben dan senjata milik polisi yang dicuri waktu itu, yang juga didapatkan di tempat pelaku, V2. Dua orang lainnya, yaitu Fauzan dan Dayat alias Farouk, masih buron.
Motif dan Skenario
Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan, penembakan itu dilakukan, bukan tanpa misi di baliknya. Direncanakan dan punya skenario. Aksi itu dilakukan, setelah para pelaku melakukan survei lokasi hingga tiga kali. Tujuan khususnya adalah senjata api yang direbut dari tangan polisi yang tewas. Dua orang pelaku yang ditangkap telah membenarkannya. Mereka sedang berupaya mengumpulkan senjata dan uang yang cukup bagi 'kelompoknya'. Mengejutkannya, saat melakukan pengejaran terhadap buron yang belum tertangkap, jumlah tersangka kembali bertambah. Semula diketahui hanya 4 orang, kini menjadi 9 orang. Bahkan menurut Kepala Kepolisian Resort Poso AKBP Pulung Rochmadiyanto, jumlah itu akan bertambah.
Polisi yang dulu begitu tenar, disegani, dan ditakuti, di balik 'simbol' dan 'atribut' seragam coklat tua, pistol, serta lencananya, namun kini menjadi sasaran buruan para teroris. Terbukti, belum usai para aparat keamanan itu mengamankan diri di Palu, lagi-lagi kasus penyerangan kembali terjadi. Kali ini dekat dengan Ibu Kota Jakarta, Bekasi. Aipda Sugiyantoro, merupakan seorang anggota Unit Ranmor Polresta Bekasi Kota yang menjadi korban. Dia tewas ditembak saat sedang berpatroli.
Pengamat teroris, Alchaidar, menilai, aksi polisi di Palu terkait dengan NII. Para teroris diduga merupakan anggota dari Penanggulangan Krisis (Kompak) yang merupakan faksi dari NII yang ada di Sulawesi Selatan. NII memang memanfaatkan para jamaahnya untuk melakukan aksi pencurian. Terinspirasi dari tokoh NII Kartosuwiryo dan Kahar Muzakkar serta kelompok gerakan Mindanao. Mereka ingin terlihat eksis. Lebih eksis dari NII Komandemen Wilayah (KW) IX. Faksi ini merasa tak dihargai, karena polisi menyatakan perang terhadap NII secara umum. Padahal faksi ini cenderung lebih brutal. Aksi NII KW IX selama ini cenderung mengatasnamakan NII secara general. Padahal ada pecahan lain dari NII yang lebih mengerikan. (sm)
Bagikan
Setelah sampai di kantor BCA yang terletak di Cabang Palu, Sulawesi Tengah, Jalan Emy Saelan, Palu Selatan, Bripda Yudistira dan Dedy langsung menempatkan diri di samping pos jaga. Sibuk lirik kanan-kiri, mata kedua Bripda ini seolah tak pernah lelah, lengah, sesaat pun untuk melakukan pengawasan. Bripda Ibrar dan Ahyar memilih berada di dalam pos jaga.
Kronologi Penembakan di Palu
Waktu itu sekitar Pukul 10.15 WITA. Sesosok 'Yamaha RX King' dengan suara mesin yang nyaring, berbaur kepulan asap motor dari knalpotnya, dipacu beriringan bersama sebuah 'Yamaha Jupiter' merah, mendekat, menghampiri Bripda Yudistira dan Dedy yang tengah berjaga. Kedua motor mendekat, membawa sosok empat orang yang berpenampilan tertutup di bagian kepala serta masing-masing orang yang duduk di 'bangku pembonceng' membawa sebuah senapan laras panjang. Berjarak sekitar 3 meter dari samping pos jaga, keempat bripda itu bahkan tak punya kesempatan untuk curiga. Merasa terkejut bukan main, mereka menghardik para pengendara motor ini. "Letakkan senjata!". Peringatan itu percuma, bahkan keempat bripda dihadiahi berondongan peluru.
Tembakan itu menghunjam, meminta nyawa Bripda Yudistira dan Bripda Ibrar. Tubuh Bripda Dedy Edwar jatuh tersungkur, dihantam timah panas yang berhasil bersarang di pantat kirinya. Peluru itu bahkan tembus hingga ke bagian paha. Beruntung, Bripda Ahyar selamat. Usai memberi 'tembakan perpisahan' yang membabi buta, para pelaku kabur. Beberapa saat sebelum kabur, mereka sempat mengambil senjata Bripda Irbar yang berada di pos jaga. Polisi langsung menggelar olah TKP dan mengejar pelaku. Senjata pelaku dapat diidentifikasi berdasarkan peluru yang dihamburkan untuk saling tembak. Ditemukan selongsong peluru cal 5,26 yang biasa digunakan M 16, FNC, dan AK Rusia.
Perburuan Polisi dibantu oleh Tim Densus 88 serta warga pun dilakukan. Berhasil, kurang dari 12 jam setelah kejadian, polisi berhasil menangkap F dan H yang diduga terlibat langsung. Dari tangan F dan H disita pula senjata Jungle US Caraben, M- 16, magazen, 25 butir peluru Jungle US dan 5 butir peluru yang caraben dan senjata milik polisi yang dicuri waktu itu, yang juga didapatkan di tempat pelaku, V2. Dua orang lainnya, yaitu Fauzan dan Dayat alias Farouk, masih buron.
Motif dan Skenario
Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan, penembakan itu dilakukan, bukan tanpa misi di baliknya. Direncanakan dan punya skenario. Aksi itu dilakukan, setelah para pelaku melakukan survei lokasi hingga tiga kali. Tujuan khususnya adalah senjata api yang direbut dari tangan polisi yang tewas. Dua orang pelaku yang ditangkap telah membenarkannya. Mereka sedang berupaya mengumpulkan senjata dan uang yang cukup bagi 'kelompoknya'. Mengejutkannya, saat melakukan pengejaran terhadap buron yang belum tertangkap, jumlah tersangka kembali bertambah. Semula diketahui hanya 4 orang, kini menjadi 9 orang. Bahkan menurut Kepala Kepolisian Resort Poso AKBP Pulung Rochmadiyanto, jumlah itu akan bertambah.
Polisi yang dulu begitu tenar, disegani, dan ditakuti, di balik 'simbol' dan 'atribut' seragam coklat tua, pistol, serta lencananya, namun kini menjadi sasaran buruan para teroris. Terbukti, belum usai para aparat keamanan itu mengamankan diri di Palu, lagi-lagi kasus penyerangan kembali terjadi. Kali ini dekat dengan Ibu Kota Jakarta, Bekasi. Aipda Sugiyantoro, merupakan seorang anggota Unit Ranmor Polresta Bekasi Kota yang menjadi korban. Dia tewas ditembak saat sedang berpatroli.
Pengamat teroris, Alchaidar, menilai, aksi polisi di Palu terkait dengan NII. Para teroris diduga merupakan anggota dari Penanggulangan Krisis (Kompak) yang merupakan faksi dari NII yang ada di Sulawesi Selatan. NII memang memanfaatkan para jamaahnya untuk melakukan aksi pencurian. Terinspirasi dari tokoh NII Kartosuwiryo dan Kahar Muzakkar serta kelompok gerakan Mindanao. Mereka ingin terlihat eksis. Lebih eksis dari NII Komandemen Wilayah (KW) IX. Faksi ini merasa tak dihargai, karena polisi menyatakan perang terhadap NII secara umum. Padahal faksi ini cenderung lebih brutal. Aksi NII KW IX selama ini cenderung mengatasnamakan NII secara general. Padahal ada pecahan lain dari NII yang lebih mengerikan. (sm)

