Wartawan Tabloid Azam Diancam Bunuh
PANGKALANKERINCI,MR
Intimidasi terhadap profesi wartawan dialami Asnol Mubarak, suratkabar mingguan Azam untuk wilayah Kabupaten Pelalawan. Asnol Mubarak mendapat ancaman akan dibunuh oleh seseorang tak dikenal.Pesan ancaman tersebut diterima pemuda asal Kecamatan Pelalawan itu melalui pesan singkat ponsel (short message service) pada Rabu (15/6) dinihari.
Menurut penuturan yang bersangkutan kepada sejumlah wartawan di media Center Kantor Bupati Pelalawan pada Rabu siang, SMS diterima sebanyak tiga kali. Masing-masing pada pukul 01.44 WIB, 01.54 WIB dan 02.09 WIB.
‘’Asnol saya ingatkan kepada kau kalau mau selamat hidup berhenti jadi wartawan sekarang. Jangan bermain dengan api ya kau belum tau siapa aku,’’ demikian tertulis dalam box SMS yang terkirim dari nomor ponsel 083187814365 milik OTK, seperti yang diperlihatkan Asnol Mubarak kepada Riau Pos.
‘’Berikut rekdaksional SMS kedua adalah demikian, ‘’kau nggak perlu tau siapa aku, tapi aku sampaikan apabila kau tetap menulis dengan tajam lagi maka akan ku habisi nyawa kau, ingat itu. Kau masih muda, punya karir dan prospek ke depan bagus tapi sayang nyawa kau dipertaruhkan,’’ ungkap SMS itu.
‘’Pada sms terakhir dia bilang tunggu aja tanggal main setelah saya membalas kedua sms sebelumnya, untuk menanyakan siapa pengirim itu. Saat saya telepon juga nomor itu tidak aktif lagi sampai sekarang,’’ tutur Asnol Mubarak.
Dia menduga ancaman tersebut berkaitan salah satu pemberitaan di media Azam. Namun kepada Riau Pos ia enggan merinci terkait berita yang mana. ‘’Kan jelas dia bilang jangan saya menulis yang tajam lagi. Artinya itu ada kaitan dengan masalah berita saya,’’ jelasnya.
Meski merasa sangat khawatir dan ragu dengan pesan singkat tersebut, namun Asnol mengaku pasrah menerima ancaman dari pihak manapun. Ia sendiri terus berusaha mengklarifikasi duduk persoalan kepada pengirim SMS. Namun nomor tersebut tidak bisa dihubungi karena non aktif.
‘’Mau bagaimana lagi bang, mungkin ini resiko profesi. Kalau saya bisa bicara sama dia okelah. Kita akan bicarakan baik-baik, saya sarankan dia pakai mekanisme hak jawab,’’ jelasnya.Ketika sejumlah wartawan menyarankan agar membawa kasus ini ke ranah hukum, Asnol mengaku sedang mempertimbangkan langkah tersebut. ‘’Kalau masih mengancam terus apa boleh buat, saya laporkan kepada polisi,’’ tutup pemuda berusia 25 tahun itu.(riaupos.com)
Bagikan
Intimidasi terhadap profesi wartawan dialami Asnol Mubarak, suratkabar mingguan Azam untuk wilayah Kabupaten Pelalawan. Asnol Mubarak mendapat ancaman akan dibunuh oleh seseorang tak dikenal.Pesan ancaman tersebut diterima pemuda asal Kecamatan Pelalawan itu melalui pesan singkat ponsel (short message service) pada Rabu (15/6) dinihari.
Menurut penuturan yang bersangkutan kepada sejumlah wartawan di media Center Kantor Bupati Pelalawan pada Rabu siang, SMS diterima sebanyak tiga kali. Masing-masing pada pukul 01.44 WIB, 01.54 WIB dan 02.09 WIB.
‘’Asnol saya ingatkan kepada kau kalau mau selamat hidup berhenti jadi wartawan sekarang. Jangan bermain dengan api ya kau belum tau siapa aku,’’ demikian tertulis dalam box SMS yang terkirim dari nomor ponsel 083187814365 milik OTK, seperti yang diperlihatkan Asnol Mubarak kepada Riau Pos.
‘’Berikut rekdaksional SMS kedua adalah demikian, ‘’kau nggak perlu tau siapa aku, tapi aku sampaikan apabila kau tetap menulis dengan tajam lagi maka akan ku habisi nyawa kau, ingat itu. Kau masih muda, punya karir dan prospek ke depan bagus tapi sayang nyawa kau dipertaruhkan,’’ ungkap SMS itu.
‘’Pada sms terakhir dia bilang tunggu aja tanggal main setelah saya membalas kedua sms sebelumnya, untuk menanyakan siapa pengirim itu. Saat saya telepon juga nomor itu tidak aktif lagi sampai sekarang,’’ tutur Asnol Mubarak.
Dia menduga ancaman tersebut berkaitan salah satu pemberitaan di media Azam. Namun kepada Riau Pos ia enggan merinci terkait berita yang mana. ‘’Kan jelas dia bilang jangan saya menulis yang tajam lagi. Artinya itu ada kaitan dengan masalah berita saya,’’ jelasnya.
Meski merasa sangat khawatir dan ragu dengan pesan singkat tersebut, namun Asnol mengaku pasrah menerima ancaman dari pihak manapun. Ia sendiri terus berusaha mengklarifikasi duduk persoalan kepada pengirim SMS. Namun nomor tersebut tidak bisa dihubungi karena non aktif.
‘’Mau bagaimana lagi bang, mungkin ini resiko profesi. Kalau saya bisa bicara sama dia okelah. Kita akan bicarakan baik-baik, saya sarankan dia pakai mekanisme hak jawab,’’ jelasnya.Ketika sejumlah wartawan menyarankan agar membawa kasus ini ke ranah hukum, Asnol mengaku sedang mempertimbangkan langkah tersebut. ‘’Kalau masih mengancam terus apa boleh buat, saya laporkan kepada polisi,’’ tutup pemuda berusia 25 tahun itu.(riaupos.com)

